Friday, 25 November 2016

September Bersamamu Part 8

Keesokan harinya Azof benar-benar datang ke rumah Lian. Jarak antara rumah Lian dan Azof sangatlah dekat. Hanya terhalang satu rumah saja, yah mereka tetanggaan. Azof datang ke rumah Lian sangat pagi sekali. Jam 06.00 pagi Azof sudah berada di depan pintu rumah Lian. Azof mengetuk pintu rumah Lian.

"Lian, Lian buka pintunya." Azof berteriak-teriak.

"Buset, jam segini udah nongol aja lo." kata Lian yang kaget membukakan pintu rumahnya. Biasanya Azof tidak per

nah bertamu sepagi ini.

"Gue kan mau bantuin lo beresin nih rumah."

"Niat banget lo. Salut gue sama lo." Lian menepuk-nepuk pundak Azof.

"Iyalah."

"Ayo kita beres-beres." Lian mengajak Azof masuk ke rumahnya.


Ketika berada di dalam rumah mereka langsung mengerjakan semua pekerjaan rumah yang bisa mereka lakukan. Seperti menyapu, ngepel, cuci piring dan lain sebagainya. Dengan ikhlas Azof membantu Lian mengerjakan semua pekerjaan rumahnya. Alhasil dalam waktu satu jam saja mereka sudah selesai mengerjakan semuanya.


"Haduh, capek." Azof membanting tubuhnya ke sofa.

"Makasih Azof." Lian tersenyum.

"Iya, sama-sama. Tuh bekas tusukan sate banyak banget."

"Kan gue belinya 50 tusuk."

"Habis?"

"Ludes malahan."

"Buset, gue pikir lo udah kagak doyan sate. Ternyata 50 tusuk yang menurut gue banyak bisa habis juga." Azof geleng-geleng kepala melihat nafsu makan Lian yang begitu rakus.

"Bisa." jawab Lian dengan polos.

"Istighfar lo. Lo makan dibarengi Sama setan sih, makanya nggak kenyang-kenyang."

"Ah, dari dulu juga gue emang makannya banyak kan." Lian mendorong pundak Azof. "Eh, waktu semalem gue ketemu sama cowok yang nyebelin banget." Lian memulai sesi curhatnya pada Azof.

"Emang gimana ceritanya?" Azof penasaran dengan cerita Lian.


Akhirnya Lian menceritakan semua kejadian semalam pada Azof. Azof hanya tertawa mendengar cerita Lian. Berkali-kali Lian menyebut bahwa Sapta adalah cowok jutek yang menyebalkan. Berbeda sekali dengan Rasya yang sangat ramah pada semua orang.


"Jadi lo ngebandingin cowok itu sama Rasya?" tanya Azof.

"Iyalah, beda banget tahu."

"Siapa tuh cowok namanya?"

"Sapta." jawab Lian dengan singkat.

"Karakter orangkan berbeda-beda. Lo nggak boleh membandingkan mereka berdua." Azof menasihati Lian.

"Iya tapikan..."

"Mendingan lo ambilin gue minum deh. Seret tahu dari tadi belum dikasih minum."Azof memotong pembicaraan Lian.

"Iya." Lian mengambilkan minum untuk Azof walaupun mukanya jadi agak cemberut.

"Nih." Lian menyodorkan segelas air es.

"Biasa aja kali mukanya." Azof menggodanya Lian.

"Habisnya lo nyebelin sih. Pake ngebelain tuh cowok."

"Dih, siapa yang ngebelain? Kan gue bilang jangan suka membanding-bandingkan orang. Nggak baik."

"Terserah deh." Lian mulai kesal pada Azof.

"Dih ngambek. Ngambek nih ceritanya." Azof mencolek bahu Lian.

"Menurut lo?" Lian melotot.

"Halah, nanti juga baik lagi. Yakin gue. Lo kan nggak bisa hidup tanpa gue." Azof mulai kepedeaan.

"Dih, sampe merinding gue lo ngomong kayak begitu."

"Hahaha..." Azof hanya tertawa.


***

Hari ini Lian akan pergi ke kantor Rasya. Lian ingin menunjukan hasil desain kartu undangan yang telah dipesan oleh Rasya untuk pernikahannya. Lian mengendarai motornya menuju kantor Rasya. Setelah sampai di depan kantor Rasya, Lian langsung memarkirkan motornya lalu mengambil tas miliknya.


"Ok, Lian lo harus tenang. Jangan grogi dan please jangan baper." Lian menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya lagi. Berulang kali Lian melakukan yang sama.

"Maaf mau bertemu dengan siapa?" seorang satpam bertanya pada Lian dengan sangat sopan.

"Saya mau bertemu dengan Pak Rasya, kebetulan kita sudah janjian." jawab Lian dengan santay.

"Silahkan, ruangan Pak Rasya ada di lantai 2."

"Terima kasih." Lian mengucapkannya dengan sopan pada satpam tersebut.

"Sama-sama."


Lian menyusuri anak tangga yang tidak terlalu banyak menuju ruangan Rasya. Matanya melirik ke kiri dan ke kanan mengamati setiap sudut kantor Rasya. Di sana Lian melihat beberapa lukisan abstrak yang menurutnya jika lukisan tersebut lebih cocok disebut lukisan anak kecil ketimbang harus menyebutnya lukisan abstrak. Karena Lian memang tidak mengerti soal lukisan sama sekali.


"Nah, ini pasti ruangan Rasya. Ada tulisannya tuh CEO." Lian begitu yakin.


Lian kembali menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya kembali. Lian mengulanginya sampai 3 kali.


"Ok, tenang. Huh... Tok tok tok" Lian mengetuk pintu ruangan Rasya.

"Masuk." Sebuah suara yang tak asing lagi di telinganya mempersilahkannya untuk segera masuk.

"Hai, Rasya." Lian menyapa Rasya yang sedang mengetik di laptopnya.

"Lian." Rasya nampak senang dengan kehadiran Lian. "Bagaimana, tidak susah mencari alamat kantorku?"

"Nggak kok."

"Silahkan duduk." Rasya mempersilahkan Lian untuk duduk.

"Iya."

"Gimana desain undagannya udah jadi? Oh sampai lupa, kamu mau minum apa? Atau kamu mau makan?"

"Nggak usah Rasya, aku juga nggak lama kok. Cuma mau kasih liat beberapa desain kartu undagannya. Nanti kamu tinggal pilih aja, lebih suka yang mana?" Lian mengeluarkan beberapa contoh desain kartu undangan yang telah dia buat dari dalam tasnya.

"Wah semuanya bagus-bagus nih. Tapi aku juga harus diskusiin hal ini sama Arsy."

"Iya, boleh. Kamu bawa aja dulu semua contohnya. Nanti kalau udah fix kamu tinggal hubungi aku aja."

"Ok deh, aku ambil ya semua contohnya." Rasya nampak senang dengan semua desain kartu undangan yang telah dibuat oleh Lian.

"Kalau gitu aku permisi dulu ya." Lian terburu-buru.

"Mau kemana buru-buru banget?"

"Ah, biasalah. Masih banyak urusan nih."

"Hati-hati di jalan ya." Rasya mengucapkannya sambil tersenyum. Dan senyuman Rasya selalu saja membuat Lian melting.

"Iya."


Lian keluar dari ruangan Rasya. Dia berlari menuju ke parkiran secepat kilat. Kali ini Lian menarik nafasnya dengan sangat cepat. Seperti orang yang habis maraton.


"Sumpah ya, demi apapun itu senyuman Rasya manis banget kayak ada gulanya gitu. Bikin gue meleleh kayak es batu." Lian mulai mengeluarkan kalimat lebaynya. "Haduh-haduh, panas dingin gue." Lian mengipas-ngipas wajahnya dengan kedua tangannya.

"Kenapa neng, kesambet ya?" Salah satu karyawan Rasya merasa aneh melihat tingkah Lian yang terlalu over.

"Songong lu ya. Terserah gue." Lian baru menyadari bahwa dirinya menjadi pusat perhatian para karyawan kantor. "Ah mendingan gue cepet-cepet cabut dari sini. Bisa-bisa gue jadi selebritis dadakan lagi kalau kelamaan di sini." Lian langsung memakai helm dan segera pergi meninggalkan kantor Rasya dengan motor matic miliknya.


***


Jam sudah menunjukan pukul 13.00 WIB. Lian bengong seorang diri di sebuah taman. Dia memikirkan seseorang, siapa lagi kalau bukan Rasya. Lian benar-benar tidak terima kalau dalam waktu dekat ini Rasya akan menikah dengan wanita lain.


"Nasib-nasib. Kenapa sih, setiap kali gue suka sama orang selalu aja bertepuk sebelah tangan? Emangnya gue jelek banget ya, kok gak ada yang mau sih sama gue?" Lian menyalahkan takdirnya sendiri. "Nggak punya pasangan, nggak punya keluarga, tinggal di rumah sendiri lagi. Sepi banget hidup gue. Apa gue bunuh diri aja gitu. Biar semua masalah gue kelar." Lian mulai ngelantur.


"Heh, cewek aneh ngapain lo di sini?" tiba-tiba sebuah suara mengagetkannya.

"Eh, elo cowok jutek juga ngapain ada di sini?"

"Gue kerja di kantor itu." Sapta menunjuk sebuah kantor majalah yang berada tepat di depan taman. Lalu dia menyulut sebatang rokok yang dipegangnya.

"Lo kerja di majalah itu?" tanya Lian.

"Iya. Udah 5 tahun." Sapta menghisap rokoknya.

"Gue freelance di kantor majalah itu."

"Oh, ya?" Sapta melirik Lian.

"Iya, setiap minggu gue nulis artikel mengenai traveling."

"Tunggu dulu. Maksud lo itu, lo yang suka nulis artikel  mengenai traveling di kantor majalah gue? Setahu gue ada 3 orang freelance yang selalu nulis artikel mengenai traveling. Tapi nggak ada nama lo tuh." Sapta kembali menghisap rokoknya yang tersisa tinggal setengahnya lagi.

"Waktu itu gue pernah nulis mengenai Sejuta Pesona Kota Yogyakarta."

"Gue inget artikel itu." Sapta mematikan rokoknya, dan dia berusaha mengingat-ngingat kembali siapa yang menulis artikel tersebut. "Lian?" Sapta mengerutkan keningnya "Lian? Liana Maharani?" Sapta ingat dengan nama penulis artikel itu.

"Itu nama lengkap gue."

"Gue nggak nyangka, ternyata lo yang nulis?"

"Iya " Lian hanya mengangguk.

"Bikin artikel yang lebih bagus lagi ya. Biar majalahnya laku keras." Sapta kembali menyulut sebatang rokok yang diambil dari saku celananya.

"Lo kerja bagian apa?"

"Gue tuh bagian yang suka bersihin genteng."

"Serius gue? Tapi tampang lo emang cocok sih?"

"Enak aja. Gue itu awalnya kerja di sana sebagai editor. Sekarang udah jadi Pemimpin Redaksi."

"Wih... Lumayan tuh jabatannya." Lian kagum melihat jabatan yang kini sudah diraih oleh Sapta. Padahal jika dilihat dari tampangnya Sapta masih sangat muda.

"Biasa aja, yang punya kantor majalah itu temen baik orang tua gue. Makanya gue ditawarin buat menggantikan posisi Pemimpin Redaksi yang dulu resign.

"Sama aja judulnya elo itu bos."

"Kan masih ada bos yang jabatannya lebih tinggi dari gue. General Manager, anak yang punya kantor majalah ini."

"Iya-iya." Lian hanya ngangguk-ngangguk.

"Gue masuk kantor dulu ya." Sapta melirik arloji yang melingkar di tangan kanannya.

"Iya."

"Sampai bertemu di lain waktu ya." Sapta tersenyum pada Lian.



Bersambung...

No comments:

Post a comment

Silahkan berkomentar dengan sopan dan baik
Komentar yang mengandung link aktif akan dihapus secara otomatis