Friday, 9 December 2016

September Bersamamu Part 12

Tanpa terasa Lian sudah selesai diinterview. Lian hanya menunggu hasilnya saja. Dalam hati Lian selalu berdoa kalau dia akan di terima kerja di perusahaan garmen itu Sebagai sekretaris.
"Semoga gue diterima di perusahaan ini."
3 hari kemudian Lian mendapat telepon dari dari PT. Suryatex yang menyatakan bahwa dirinya diterima bekerja di sana sebagai seorang sekretaris. Lian begitu bersyukur, karena selain akan mendapatkan teman baru, tentunya hal ini akan menambah pundi-pundi rupiahnya.
Hari demi hari Lian jalani tanpa ada sosok Azof, sahabatnya. Mereka hanya berkomunikasi lewat telepon atau dunia Maya. Komunikasi antara mereka sangat terjaga walaupun terkadang mereka berantem hanya gara-gara hal sepele. Tapi mereka tetap menjadi sahabat sampai saat ini.
Tanpa terasa 3 bulan sudah Lian bekerja di PT. Suryatex. Dia begitu menikmati pekerjaan barunya itu. Kini Lian sudah tidak menjadi penulis lepas lagi di kantor majalah. Lian fokus pada pekerjaannya dan masih tetap bisa ngeblog disela-sela waktu senggangnya. Dan terkadang Lian masih menyempatkan waktu untuk menulis novel. Kini Lian sudah mengurangi kebiasaan cengengnya. Lian mulai mengurangi air matanya yang sering keluar. Itu semua berkat Azof. Azof selalu menasehati Lian agar dia menjadi wanita yang tegar. Tidak mudah menyerah. Walaupun sekarang Azof tidak berada di sisi Lian. Tapi Azof selalu berusaha menjadi sahabat yang baik bagi Lian. Azof selalu setia mendengar keluh kesah Lian. Begitupun sebaliknya.
"Enaknya pulang kerja ke mana ya?" Lian berpikir sejenak. "Ah gue mau jalan-jalan ke mal. Sekalian gue mau beli sepatu."
Setelah pulang kerja Lian langsung pergi ke salah satu mal yang sangat sering sekali ia kunjungi dulu bersama Azof. Hari ini Lian sengaja tidak membawa sepeda motornya, karena tangan kiri Lian diperban akibat jatuh dari motor 2 hari yang lalu.
Lian menghampiri salah satu toko sepatu di mal tersebut. Lian melihat-lihat sepatu sport, matanya melirik ke sana dan ke sini mengamati semua sepatu di dalam toko.
"Pilih yang mana ya?" Lian kebingungan.
Saat Lian sedang mencoba sepasang sepatu sport berwarna putih tiba-tiba saja ada yang menyapanya dari belakang.
"Lian."
Lian melirik ke arah belakang untuk melihat siapa yang menyapanya. "Sapta."
"Wah, gue nggak nyangka kita bisa ketemu di sini ya."
Lian tersenyum "iya."
Sapta memperhatikan pakaian yang dipakai oleh Lian, Lian mengenakan kemeja berwarna biru tua, dan memakai rok selutut. Persis seperti orang kantoran.
"Baju kamu kok kayak orang kantoran gitu sih?"
"Iya, sekarang gue kerja."
"Lo kerja di mana?"
"Di perusahaan garmen."
"Perusahaan garmen kan banyak."
"PT. Suryatex."
"PT. Suryatex?"
"Iya." Lian menganggukan kepalanya. "Kenapa?"
"Nggak, gue kayaknya tahu aja soal perusahaan itu."
"Oh, iya?"
"Iya, ya udahlah lupain aja. Lo di sana kerja bagian apa?"
"Sekretaris."
"Oh, pantesan aja lo keliatan cantik." Sapta memuji Lian.
"Haha..." Lian tertawa karena Lian merasa jika baru kali ini ada laki-laki yang bilang bahwa dia cantik. Sahabatnya sendiripun tidak pernah mengatakan hal seperti itu. "Gue mau bayar dulu sepatunya ya."
"Ok."
Setelah membayar sepatunya di kasir Lian langsung pamit pada Sapta karena Lian ingin segera pulang.
"Nanti dulu Lian, kita ngobrol-ngobrol aja dulu." ucap Sapta pada Lian.
"Lain waktu aja ya, gue capek mau pulang."
"Oh, gitu. Eh, tangan lo kenapa?" Sapta baru menyadari tangan kiri Lian yang diperban.
"2 hari yang lalu gue jatuh dari motor. Makanya sekarang gue nggak bawa motor. Gue buru-buru pulang karena takut udah nggak ada kendaraan umum."
"Makanya lo tuh hati-hati kalau bawa motor. Ya udah gue anterin lo pulang. Gue bawa mobil kok."
"Nggak usahlah."
"Udahlah, ayo." Sapta menarik tangan kanan Lian.
"Ok." akhirnya Lian mau diantar pulang oleh Sapta.
Lian dan Sapta masuk ke dalam mobil. Saat berada di dalam mobil mereka tak banyak bicara. Lian jadi lebih pendiam dari biasanya. Sapta yang sesekali melirik Lian merasa kebingungan dengan sikap Lian hari ini. Lian yang biasanya selalu mengajaknya berdebat, kini tak mengeluarkan sepatah katapun dari bibirnya.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di rumah Lian. Kurang dari 30 menit saja mereka sudah sampai di depan rumah Lian. Mereka turun dari mobil.
"Ayo kita masuk dulu." Lian mengajak Sapta masuk ke dalam rumahnya.
"Iya." Sapta mengikuti Lian dari belakang.
"Rumah lo sepi amat, yang lain pada ke mana?" Sapta melihat-lihat isi rumah Lian.
"Gue tinggal sendiri di sini."
"Orang tua lo pada ke mana?"
"Mereka udah meninggal. Dan waktu itu lo bilang kalau gue nggak pernah diajarin sopan santun oleh orang tua gue itu emang benar. Karena gue udah nggak punya orang tua lagi."
"Sorry, Lian. Gue nggak tahu." Sapta merasa menyesal pernah mengucapkan hal itu pada Lian.
"Terus itu photo siapa? Cowok lo?" Sapta menunjuk photo Lian yang sedang bersama seorang laki-laki.
"Itu sahabat gue, Azof namanya. Dia juga tinggal di daerah sini. Tapi dia lagi tugas ke Papua."
"Kayaknya gue kenal sama sahabat lo. Tunggu dulu, dia dokter?" Sapta mulai menebak-nebak.
"Iya, dia seorang dokter. Lo kenal?"
"Ya, nggak terlalu kenal juga sih. Cuma waktu itu ibu gue pernah keserempet motor. Terus gue bawa ibu gue ke rumah sakit. Dan dia uang menangani ibu gue."
"Oh, jadi lo udah pernah ketemu dong sama dia?"
"Iya, waktu di rumah sakit."
"Lo nggak takut tinggal sendirian di sini?"
"Nggak, gue udah biasa kok."
Sapta menatap wajah Lian, dia tidak menyangka sama sekali jika gadis ini hidup seorang diri di rumahnya. Seketika itu Sapta merasa iba pada Lian. Sapta tak banyak menyinggung soal keluarga Lian. Karena dia takut kalau Lian akan tersinggung.
"Oh, iya. Lo mau minum apa?"
"Nggak usah Lian, gue nggak haus kok."
"Oh."
"Azof udah berapa lama di Papua?"
"Ya, udah beberapa bulan sih dia di sana. Katanya bulan depan dia udah bisa pulang ke Jakarta. Kasian dia."
"Kenapa kasian?"
"Dia diputusin sama pacarnya lalu ditinggal nikah. Padahal dia sayang banget loh sama ceweknya. Dan dia nggak datang ke acara pernikahan mantannya karena dia lagi tugas di Papua. Mending kayak gitu deh, dari pada dia harus datang dan menyaksikan pernikahan itu, pasti sakit banget rasanya."
"Namanya juga nggak jodoh."
"Iya."
"Eh, waktu itu lo beli sate kambing banyak banget. Lo kemanain? Gue pikir buat keluarga lo." Sapta mengingat-ngingat kejadian beberapa bulan yang lalu saat Lian membeli sate kambing 50 tusuk.
"Buat gue sendiri."
"Buset, rakus amat lo."
"Bukan rakus. Tapi doyan."
"Sama aja."
"Hehe..." Lian cengar-cengir.
"Gue pulang dulu ya, nggak enak soalnya udah malem. Ntar disangka yang aneh-aneh lagi."
"Iya, lo hati-hati ya di jalan."
"Pasti, kalau ada apa-apa lo jangan ragu-ragu telepon gue ya. Soalnya gue jadi agak khawatir kalau lo tinggal sendirian."
"Iya."
"Pokoknya kalau lo butuh apa-apa lo harus hubungi gue."
"Iya, bawel banget sih lo."
"Gue pulang ya, lo hati-hati di rumah."
"Iya." Lian mengantarkan Sapta sampai ke depan pintu rumahnya.
Sapta masuk ke dalam mobilnya, saat berada di dalam mobil Sapta membuka kaca jendela mobilnya hanya untuk melihat Lian. Sapta jadi tak tega meninggalkan Lian sendirian. Tapi harus bagaimana lagi, Sapta tetap harus meninggalkan Lian.
"Hati-hati ya." Lian melambaikan tangannya pada Sapta sambil tersenyum. Sapta pun membalas lambaian tangan Lian sambil tersenyum juga.
***
Ini adalah jam istirahat tapi Sapta masih sibuk dengan pekerjaannya. Dia belum selesai. Nampaknya Sapta memang sengaja tidak istirahat. Entah kenapa hari ini Sapta tidak nafsu makan. Tadi pagi saja dia tidak sarapan.
"Sapta. Kok kamu nggak istirahat. Inikan udah jam istirahat." tiba-tiba Dita datang ke ruangan Sapta tanpa mengetuk pintu.
"Pekerjaan saya belum selesai, Bu." Sapta masih mengetik di laptopnya.
"Sapta, aku kan udah sering bilang sama kamu. Kalau kita lagi berdua kayak gini nggak usah panggil aku Ibu. Jangan pakai bahasa formal."
"Inikan masih di kantor. Nggak enak kalau didengar orang. Disangkanya saya nggak sopan sama Ibu."
"Udahlah Sapta, toh nggak ada yang dengar jugakan. Lagipula orang tua kamu dan orang tua aku itu berteman baik."
"Ok, Dita." kali ini Sapta menyebut nama Dita tanpa diembel-embeli kata Ibu.
"Ayo kita makan."
"Gue lagi nggak nafsu makan nih."
"Lho, kamu sakit?" Dita langsung memegang dahi Sapta.
"Nggak usah lebay, gue nggak apa-apa kok. Cuma nggak nafsu makan aja." Sapta melepaskan tangan Dita dari dahinya.
"Atau kamu mau aku beliin makanan aja. Nanti kita makan di sini aja."
"Gue kan udah bilang kalau gue nggak nafsu makan."
"Emhh, nanti malam kita jalan-jalan yuk." Dita mengajak Sapta.
"Gue lagi nggak mau kemana-mana."
“Ayolah Sapta. Please.” Dita memohon pada Sapta.
“Emangnya mau jalan-jalan ke mana sih?”
“Ya ke mana aja pokoknya. Happy-happy gitu.”
“Ok deh.” akhirnya Sapta mau juga diajak oleh Dita.
“Yey.” Dita kegirangan. “Nanti malam kamu jemput aku ya.”
“Iya, iya.”
            Malam yang ditunggu-tunggu oleh Dita pun akhirnya datang juga. Dita berulang kali bercermin hanya sekedar untuk touch up. Dia ingin tampil cantik di depan Sapta. Dita memang sudah menyukai Sapta sejak lama. Namun Sapta selalu saja cuek pada dirinya. Sapta memang tipe laki-laki yang sangat susah sekali didekati.
            Klakson mobil Sapta berbunyi. Itu menandakan kalau Sapta sudah berada di depan rumah Dita. Dita langsung melongo dari jendela kamarnya. Dita meloncat kegirangan ketika Sapta sudah tiba di rumahnya. Sapta langsung mengetuk pintu rumah Dita. Dan yang membukakan pintu untuknya adalah Pak Ali, ayahnya Dita.
“Selamat malam, om.” ucap Sapta dengan sopan.
“Malam juga, Sapta. Dita sudah nunggu kamu lho dari tadi.” kata Pak Ali.
 “Maaf om, tadi sedikit macet.”
“Oh, ya sudah nggak apa-apa. Ayo masuk Sapta.”
“Iya, om.” Sapta masuk ke dalam rumah Dita.
“Ayo, duduk.” Pak Ali mempersilahkan Sapta untuk duduk.
“Terima kasih, om.”
“Dita, Dita… Sapta sudah datang.” Pak Ali memanggil anaknya.
“Iya, Pah.” Dita keluar dari kamarnya.
“Anak Papa cantik sekali malam ini. Pasti kalian berdua mau ngedate ya?”
“Nggak kok, om. Kita Cuma jalan-jalan biasa aja.” Sapta menyanggah tuduhan Pak Ali.
“Kamu jangan malu-malu seperti itu Sapta.”
“Pah, udah deh. tuh lihat Sapta jadi malu begitu.”
“Ya, sudah kalian cepat berangkat. Nanti keburu malam lagi.”
“Pamit ya om.” Sapta mencium tangan Pak Ali.
“Aku juga pamit ya, Pah.” Dita mencium tangan Papanya.
“Iya, kalian hati-hati ya.”
“Siap, Pah.”
            Sapta dan Dita masuk ke dalam mobil, tak butuh waktu lama mobil itu kini sudah melaju dengan kecepatan sedang.
“Kita mau ke mana?” tanya Sapta pada Dita.
“ Terserah kamu aja” jawab Dita.
“Kok gue, kan lo yang ngajak.”
“Sapta kamu bisa nggak sih kalau ngomong sama aku itu nggak pake lo gue. Kayak ke temen aja.”
“Kita emang temenankan.”
Dita lupa jika dirinya dan Sapta memang belum jadian. “Ya, aku maunya pake aku kamu aja.”
“Sorry, gue udah kebiasaan kayak gini.”
“Ya, udah deh nggak apa-apa.” Dita agak cemberut.
“Kita  mampir dulu ya ke toko komputer, gue mau beli flashdisk dulu.”
“Iya.”
            Tak lama kemudian mobil Sapta telah sampai di depan toko komputer. Sapta dan Dita turun dari mobil. Saat berada di dalam toko komputer Sapta seperti melihat seseorang yang sangat ia kenal.
“Lian, lo lagi beli apa?” Sapta menyapa Lian.
“Gue lagi beli flashdisk.”
“Lo lagi lo lagi.” Dita tidak suka ketika tahu bahwa Lian berada di sini juga.
“Lo apa-apaan sih, Dita?” ucap Sapta pada Dita.
“Aku nggak suka lihat dia.”
“Tapi kita bertemu di sini itu secara tidak sengaja.”
“Tetap aja aku nggak suka sama dia. Dia itu perempuan murahan, sama kayak mamanya.”
“Kamu ikut aku sini.” Sapta menyeret tubuh Dita keluar dari dalam toko.
“Sapta, lepasin aku.”
“Jaga ucapan kamu Dita, ini tempat umum. Malu dilihat orang.”
            Lian keluar dari dalam toko sambil membawa flashdisk yang telah dia beli. Lian menghampiri Sapta dan juga Dita yang sedang adu mulut.
“Aku nggak peduli. Aku benci sama dia.”
“Dita pelanin suara lo.” perintah Sapta.
“Eh, dasar lo perempuan nggak bener. Anak sama ibu sama aja.” Dita terus memaki-maki Lian.
“Dita cukup.” rasanya Lian ingin sekali membekam mulut Dita.
“Alah, diem lo. Plakkk!!!.” Dita menampar pipi Lian cukup keras. Lian memegang pipinya yang terkena tamparan.
“Lo keterlaluan.” Sapta naik pitam.
“Dia pantas dapetin itu. Dasar pelacur.”
“Dita stop!!!.” kali ini Sapta benar-benar marah pada Dita.
“Sapta, inget ya. Aku ini atasan kamu. Kamu nggak berhak bentak aku kayak gitu.”
“Di kantor lo emang atasan gue. Tapi di luar kantor lo bukan siapa-siapa gue. Ayo Lian.” Sapta menarik tangan Lian dan menyuruh Lian untuk naik ke dalam mobilnya.
“Sapta tunggu, Sapta. Aku pulang gimana?”
“Lo pulang sendiri aja.” Sapta langsung tancap gas meninggalkan Dita.
            Saat berada dalam mobil Sapta sedikit cemas dengan keadaan Lian. Sapta memutuskan untuk menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
“Lo nggak apa-apa?” Sapta melihat wajah Lian.
“Enggak kok.” Lian menggelengkan kepalanya.
“Kok nggak nangis?”
“Gue udah nggak nangis lagi. Kan sekarang udah jadi wanita tegar.” ucap Lian sambil tersenyum.
“Jadi udah nggak cengeng lagi nih ceritanya?”
“Nggak dong. Sekarang air matanya udah dikurangin.”
“Bagus deh kalau gitu.” Sapta Mengusap kepala Lian. “Yang ini nggak sakit?” Sapta mengelus pipi Lian yang tadi ditampar oleh Dita.
“Lumayan sih.”
“Kenapa sih, Dita layaknya benci banget sama lo?”
Lian menarik napasnya dalam-dalam. “Gue harus cerita gitu sama lo?”
“Nggak apa-apa. Anggap aja kalau gue itu Azof. Jadi lo bisa cerita apapun sama gue. Gue janji nggak bakalan cerita sama siapapun.”
“Janji ya?”
“Iya.”
“Dulu gue itu memiliki keluarga yang harmonis, kita semua hidup bahagia. Tapi semua itu berubah ketika ayah sama ade gue meninggal secara bersamaan. Mereka meninggal karena kecelakaan motor di jalan raya. Gue inget banget waktu itu gue masih duduk di bangku SMP. Semenjak kepergian mereka, ibu gue harus berjuang seorang diri menggantikan ayah mencari nafkah. Semua itu dia lakukan cuma buat gue. Dia bekerja apapun yang dia bisa. Mulai jualan baju online, jadi penerjemah buku, dan kerja di salah satu restoran. Hingga suatu ketika, ibu gue ketemu sama Om Ali. Papanya Dita. Om Ali suka sama ibu gue, dan bahkan dia menikahi ibu gue. Demi kebahagian ibu gue, gue rela punya ayah tiri. Setelah beberapa bulan menikah, ternyata ibu gue baru tahu kalau selama ini Om Ali bohong. Dulu dia bilang kalau dia itu adalah seorang duda. Ternyata dia masih memiliki istri. Istrinya tidak terima, dia datang ke rumah bersama Dita lalu melabrak ibu gue. Mereka Memaki-maki ibu gue di depan mata gue sendiri. Padahal ibu gue sama sekali nggak tahu kalau laki-laki yang sudah menikah dengannya masih memiliki istri. Hingga pada akhirnya ibu gue memutuskan untuk mengalah. Dia bercerai dari Om Ali. Pernikahan mereka tidak bertahan lama. Hanya berumur beberapa bulan saja. Dan gue sama sekali nggak tahu kalau Om Ali itu yang punya kantor majalah itu. Saat awal masuk kuliah ternyata gue satu kampus dengan Dita. Dia senior gue. Umur Dita diatas gue 2 tahun. Sejak saat itu Dita benci banget sama gue dan ibu. Dia selalu mengecap kalau ibu gue adalah perebut suami orang. Bahkan gue juga sering dikata-katain kayak barusan. Padahal gue bukan wanita murahan, pelacu…”
“Stop, gue nggak mau denger kata itu.” Sapta memotong ucapan Lian. “Gue yakin lo cewek baik-baik. Gue emang belum lama kenal sama lo. Tapi gue bisa lihat dari wajah lo kalau lo itu cewek baik-baik, apa yang dikatakan sama Dita itu nggak bener.”
“Makasih karena lo udah mau percaya sama gue.”
“Iya.”
“Kasihan Lian. Gue jadi nggak tega.” Sapta berbicara dalam hatinya
“Sapta, kenapa bengong?” Lian menepuk pundak Sapta.
“Nggak, nggak apa-apa kok. Eh, gimana tangan lo, udah baikan?” Sapta memegang tangan Lian yang masih diperban.
“Udah mendingan kok.”
“Gue antar pulang ya.”
“Iya.” Lian menganggukan kepalanya

No comments:

Post a Comment

Silahkan berkomentar dengan sopan dan baik
Komentar yang mengandung link aktif akan dihapus secara otomatis