Wednesday, 23 November 2016

September Bersamamu Part 6

“Bagaimana keadaan ibu saya, dok?” Pria itu mencemaskan kondisi ibunya.
“Ibu Anda baik-baik saja. Tidak ada luka serius, hanya sedikit lecet-lecet saja. Saya akan buatkan resepnya.”
“Terima kasih, dok.” ucap Pria itu.
“Sama-sama.” Azof kembali duduk di kursinya dan langsung membuat resep obatnya.
“Ibu ndak apa-apa, Nak. Cuma luka kecil saja.” Dengan logat Jawanya, ibu itu berusaha menjelaskan pada anaknya bahwa kondisinya baik-baik saja.
“Tapikan, bu…”
“Udah, kamu ndak usah khawatir kayak gitu. Dokter kan sudah buatkan resep buat ibu, ibu pasti sembuh. Lagian ibu cuma keserempet motor aja.”
“Tapi aku tetep khawatir sama ibu.” Pria itu masih memegang tangan ibunya dengan sangat lembut.
“Ini resep yang harus Anda tebus.” Azof menyerahkan selembar kertas pada pria tersebut.
“Apa nggak sebaiknya ibu saya dirawat saja, dok”
“Nak, ibu tidak usah dirawat. Berobat jalan saja sudah cukup.” lagi-lagi si ibu tidak ingin membuat anaknya cemas.
“Tidak perlu. Ibu Anda benar, cukup berobat jalan saja. Nanti jika ada apa-apa, Anda bisa membawa kembali ibu Anda ke sini.”
“Baik, dok. Terima kasih.”
“Iya. Kalau begitu saya permisi dulu. Ibu Anda sudah bisa pulang sekarang.”
“Terima kasih ya, dok.” Ibu itu mengucapkan terima kasih pada Azof.
“Iya, ibu.”
“Ayo bu kita pulang sekarang.” Pria itu menghampiri ibunya, dan membantu untuk membangunkan ibunya.
“Iya.” Ibu itu perlahan-lahan bangun dari tempat tidur.
“Kita tebus dulu obatnya ya bu.”
“Iya.”

***
            Azof mengeluarkan handphone miliknya dari dalam saku celana. Lalu dia mencari nomor telepon yang sudah sangat sering sekali dia hubungi. Lian, yah Azof menghubungi Lian via telepon.

“Hallo, Lian. Lo lagi ngapain?”
“Lo nggak ada kerjaan ya, nanyain gue lagi ngapain?” jawab Lian dengan sewot.
“Biasa aja kali jawabnya.” Azof malah ikuta sewot.
“Lagian kalau nggak penting-penting amat mending lo nggak usah telepon gue. Ngabisin pulsa aja tahu.”
“Yang abis kan pulsa gue, bukan pulsa punya lo.”
“Dari pada lo telepon gue, mendingan lo telepon pasien-pasien lo deh.” Lian memberikan saran yang membuat Azof menganggat sebelah alisnya. Lagipula buat apa Azof harus menelpon pasien-pasiennya satu persatu. Bisa bobol beneran pulsanya.

            Yah, begitulah mereka. Lian dan Azof memang seringkali bertikai seperti itu. Hanya karena masalah sepele saja bisa dibesar-besarkan. Namun, walaupun begitu mereka tetap berteman baik. Apalagi mereka berdua sudah bersahabat sejak lama.

“Woy, otak lo bocor ya? Nggak ada kerjaan gue telepon pasien-pasien gue. Lo tuh harusnya bersyukur ya gue yang notabennya dokter kece di Indonesia masih mau teleponan sama lo.” Azof mulai mengeluarkan jurus lebaynya.
“Mulai deh, lebay.” Lian ketawa-ketiwi mendengar peryataan Azof. Sejak kapan Azof dinobatkan sebagai dokter kece di Indonesia?
“Gue, serius nih. Lo lagi ngapain? Soalnya gue mau minta tolong sama lo.” Azof menyenderkan badannya ke tembok.
“Gue lagi mendesain kartu undangan Rasya sama Arsy.” jawab Lian sambil terus menatap layar laptopnya.
“Cieee, yang bantuin pernikahan mantan gebetan.” Azof tertawa.
“Elo nggak usah rese ya. Emangnya lo mau minta bantuan apa sih?” Lian penasaran.
“Jadi gini, besok kan gue libur. Nah…” Azof tidak melanjutkan kalimatnya.
“Nah apa?” Lian penasaran.
“Nah, gue mau…”
“Mau apa sih?” Lian semakin penasaran.
“Gue mau bantuin lo beres-beres di rumah lo. Gue tahu sih, pasti lo capek kan kalau setiap hari beres-beres sendirian. Ya, semenjak kepergian ibu lo, lo harus beresin semuanya. Apalagi di rumah lo sendiri. Nggak ada yang bantuin.” kali ini Azof mulai serius. Ya, dia serius menawarkan bantuan jasanya pada Lian.
“Itu sih elo yang mau bantuin gue, Azof”
“Hehe…” Azof hanya nyengir.
“Gue kan sebatang kara sekarang, Zof. Waktu SMP ayah sama adik gue meninggal karena kecelakaan motor. Dan sekarang ibu gue malah nyusul mereka. Sendirian gue di Jakarta.” mata Lian mulai berkaca-kaca.
“Kan masih ada gue kali. Jadi lo nggak sendirian.” Azof berusaha menenangkan hati Lian walaupun hanya lewat telepon.

           Sekarang Lian memang tinggal seorang diri di rumahnya. Ibunya baru saja meninggal dua bulan yang lalu. Dan yang membuat Lian sangat sedih adalah ibunya meninggal secara mendadak. Bahkan pada saat itu Lian sama sekali tidak memiliki firasat apapun. Tapi ini sudah menjadi kehendak-Nya. Lian tidak boleh menyalahkan siapa-siapa. Dia harus tetap tegar menghadapi semua cobaan ini. Tuhan pasti tahu mana yang terbaik untuk dirinya. Untung saja Lian masih mempunyai sahabat baik seperti Azof. Walaupun Azof selalu menyebalkan dan membuatnya jengkel setiap hari, tapi di mata Lian jika Azof adalah sosok sahabat yang sempurna. Dia selalu ada disaat Lian tertimpa masalah.

“Woy, lo masih di situkan?” kata Azof pada Lian.
“Iya, gue masih di sini kok.” Lian meneyeka air matanya yang hampir jatuh. “Ya, udah besok gue tunggu ya. Kebetulan cucian gue banyak nih. Hehe…” Lian mulai cengar-cengir.
“Ke laundry neng.”
“Haha…” Lian hanya tertawa mendengar ucapan Azof yang ketus.
“Ya, udah deh, kalau gitu gue mau lanjut kerja lagi.”
“Kerja apaan? Lo kan kerjanya godain suster dan pasien yang cantik-cantik.”
“Wih, sorry sebagai seorang dokter gue harus jaga image.” Azof so cool.
“Image aja dijaga. Iman yang dijaga.”
“Image plus iman juga maksud gue.”
“Gue tutup yah teleponnya. Selamat bekerja, bye.” Lian menutup teleponnya terlebih dahulu.
“Ok, Bye”
            Azof melanjutkan kembali tugasnya sebagai seorang dokter. Untuk urusan pekerjaan Azof memang selalu serius. Meskipun dia selalu merasa jika pekerjaannya saat ini bukanlah bidang yang dia mau. Azof merasa jika menjadi seorang dokter bukanlah pekerjaan yang ingin dia geluti. Tapi dengan menjadi seorang dokter setidaknya Azof bisa membantu banyak orang.


Bersambung...

No comments:

Post a comment

Silahkan berkomentar dengan sopan dan baik
Komentar yang mengandung link aktif akan dihapus secara otomatis