Sunday, 20 November 2016

September Bersamamu Part 3

Lian datang ke Cafe di mana dia janjian bersama Rasya. Dia mencari sosok laki-laki itu, namun nampaknya Lian tidak melihat sosok Rasya sama sekali. Lian mengamati sekeliling Cafe tersebut. Dan Lian pun tidak melihat Batang hidung Rasya sama sekali.

“Rasya ke mana ya? Mungkin dia belum datang kali ya. Gue duduk dulu aja deh.” Lian pun akhirnya duduk.

Lian melihat-lihat menu makanan yang berada di atas meja. Lalu dia sesekali mengecek handphonenya. Siapa tahu ada kabar dari Rasya. Namun sama sekali tidak ada pesan dari Rasya. 10 menit sudah Lian menunggu sosok laki-laki itu. Namun Rasaya belum menampakan Batang hidungnya.

“Mbak, saya pesan jus mangga satu ya.” Lian memanggil salah satu pelayan Cafe.
“Ada lagi?”
“Itu aja dulu Mbak”
“Baik.” Pelayan itu pun pergi.

          Tak lama kemudian, akhirnya orang yang ditunggu Lian sedari tadi sudah muncul di hadapannya. Dia memakai kaos biru dan celana jeans panjang. Dengan penampilan seperti itu pun mata Lian tak henti menatap laki-laki itu. Perasaan Lian tidak dapat dibohongi lagi. Bahwa dia memang benar-benar merindukan laki-laki yang kini sedang berdiri tepat di hadapannya.

“Lian, maaf aku telat. Agak sedikit macet soalnya.” Rasya menyeret kursi lalu duduk tepat di hadapan Lian.
“Iya, santai aja. Aku juga belum lama kok di sini.” jawab Lian sambil tersenyum.
“Kamu udah pesan makanan?”
“Aku udah pesan minum kok, barusan.”
“Oh.”
“Kamu mau pesan juga?” tanya Lian pada Rasya.
“Nggak usah, Lian. Rencananya aku mau ngajak kamu ke suatu tempat.”
“Ke mana?” tanya Lian penasaran.
“Ini Pesanannya.” tiba-tiba pelayan Cafe datang sambil membawakan minuman yang dipesan oleh Lian.
“Makasih ya, Mbak.” kata Lian
“Sama-sama.” jawab pelayan itu sambil tersenyum.
“Kamu mau ngajak aku ke mana?” Tanya Lian sekali lagi.
“Habisin dulu minumannya, baru nanti aku kasih tahu.” jawab  Rasya.

            Karena Lian begitu penasaran, dia akan diajak ke mana oleh Rasya. Akhirnya, Lian menghabiskan minumannya dengan cepat.

“Ok, minumannya udah habis. Jadi, kita mau ke mana?”
“Cepet banget habisnya.” Rasya tersenyum melihat Lian.
“Aku penasaran nih.”
“Santay aja dulu. Inikan masih siang.”
“Kenapa kalau masih siang?”
“Soalnya, tempat yang mau aku tunjukin ke kamu itu enaknya pas lagi malam. Lebih seru.”
“Oh, ya?” Lian mengangkat satu alisnya.
 “Iya.”
“Buset, deh ni cowok. Sebenernya dia mau ngajakin gue ke mana sih? Bikin penasaran aja.” Lian berbicara dalam hatinya.
“Sampai lupa aku, nggak nanyain kesibukan kamu sekarang itu ngapain?”          
“Ya…, nggak sibuk-sibuk banget sih. Setelah lulus kuliah aku paling nulis novel, ngeblog. Ya, udah Cuma gitu aja.”
“Ya, ya. Aku tahu dari dulu kamu memang sering nulis novel. Tapi aku baru tahu lho kalau sekarang kamu ngeblog juga.”
“Ya, lumayan sih udah bisa menghasilkan juga dari blog.”
“Wow, bagus itu. Berarti sekarang kamu nggak kerja?” tanya Rasya pada Lian.
“Nggak.” Lian menggelengkan kepalanya. “Aku kayaknya nggak tertarik buat kerja sih. Toh dari ngeblog sama nulis novelpun aku bisa menghasilkan uang. Dan hasilnya pun lumayan kok. Lumayanlah buat jajan.” Lian cengar-cengir.
“Iya, lebih baik seperti itu. Jadi bos buat diri sendiri. Nggak harus terikat jam kerja sama orang lain.”
“Iya, betul banget. Lagian aku juga pernah kerja kok, lumayan sih punya pengalaman 2 tahun. Ya, pada akhirnya aku memutuskan untuk resign dari perusahaan tempat aku kerja dulu. Dan memilih jadi penulis novel dan blogger. Kalau kamu sendiri sekarang sibuk apa?”
“Ya, aku sih meneruskan bisnis keluargaku. Dibidang property.”
“Wih, jadi pengusaha nih sekarang.”
“Amin .”
“Ayo dong, kamu kasih tahu aku, kamu ngajak aku ke mana?” nampaknya Lian sudah  tidak sabar lagi.
“Ok, ok. Sekarang kita berangkat ya.”
“Mbak.” Lian memanggil salah satu pelayan sambil melambaikan tangannya. Pelayan itupun menghampiri meja Lian dan Rasya.
“Saya mau bayar minumannya.” ucap Lian.
“30 ribu.” kata pelayan itu.
“Biar aku yang bayar.” Rasya membayar minuman Lian.
“Makasih.” ucap Lian sambil tersenyum pada Rasya.
“Iya.”
            Lian dan Rasya pun akhirnya meinggalkan Cafe tersebut.


Bersambung…


Kira-kira, Rasya mau mengajak Lian ke mana ya?...

No comments:

Post a comment

Silahkan berkomentar dengan sopan dan baik
Komentar yang mengandung link aktif akan dihapus secara otomatis