Saturday, 10 December 2016

September Bersamamu Part 14 (Last Part)

Lian sedang membereskan ruangan Sapta. Dia merapihkan beberap file-file penting lalu menyusunya satu persatu-satu ke dalam lemari arsip.
“Rajin banget.” tiba-tiba Sapta berada tepat di belakang Lian.
“Saya selalu membereskan ruangan bapak, jadi bukan kali ini saja saya rajin.”
“Oh, gitu.” Sapta duduk di kursinya. Lalu dia menatap Lian tanpa berkedip sama sekali. Sesekali Sapta tersenyum kecil karena melihat Lian.
“Maaf, ada yang salah dengan penampilan saya?” Lian melirik bajunya sendiri.
“Nggak ada yang salah kok. Cuma warna lipstick kamu diganti ya? Agak merah gimana gitu warnanya.” Sapta sangat memperhatikan hal sekecil apapun yang dipakai oleh Lian.
“Bapak nggak ada kerjaan ya sampai-sampai memperhatikan warna lipstick saya?” Lian mulai kesal pada Sapta.
Sapta bangkit dari tempat duduknya dan dia menghampiri Lian. “Kamu jangan galak-galak gitu sama aku, soalnya aku nggak mau galakin kamu balik. Aku kan sayang sama kamu.” kata-kata itu terdengar jelas oleh telinga Lian.
“Sejak kapan dia bilang aku kamu? Biasanya juga lo gue.” Lian berbicara dalam hatinya. Dan dia heran dengan sikap Sapta yang mendadak jadi manis seperti ini.
“Kok diem aja sih sayang?” Sapta mulai bersikap mesra pada Lian.
“Bapak panggil siapa?”
“Kamu. Kamu kan sekarang pacar aku.”
“Sejak kapan kita pacaran?”
“Semalam.” Sapta semakin mendekatkan wajahnya pada Lian, bahkan sekarang Sapta sudah memegang pinggang Lian dengan kedua tangannya.
“Gue nggak pernah terima lo.”
“Shut, jangan berisik. Ini kantor. Inget aku atasan kamu, jadi kamu harus melakukan apapun yang aku mau. Termasuk jadi pacar aku.”
“Lo sinting ya.”
“Nggak kok.” Sapta membelai pipi Lian. Sapta hampir saja mencubit pipi Lian yang agak chubby, namun Lian keburu menghindar karena handphonenya berbunyi.
Ternyata Lian mendapat pesan singkat dari Rasya yang mengingatkan bahwa Lian harus datang ke acara pernikahannya besok malam. Lian hanya mematung setelah membaca pesan singkat itu. Matanya mulai berkaca-kaca. Sapta yang melihat Lian seperti itu merasa khawatir.
“Kenapa Lian?”
Lian tidak menjawab pertanyaan Sapta, Lian hanya memandangi layar handphonenya terus-menerus. Lian ingin sekali berteriak kalau dialah satu-satunya orang yang tidak setuju dengan pernikah Rasya dan Azka. Sapta merebut handphone yang sedang dipegang oleh Lian, lalu dia membaca pesan singkat itu.
“Udah kamu jangan nangis.” Sapta memegang bahu Lian. “Masih ada aku.” Sapta mulai menghapus air mata Lian.
            Sapta menarik tubuh Lian ke dalam pelukannya, Sapta mengelus kepala Lian dengan lembut. Sapta dapat merasakan apa yang kini dirasakan oleh Lian. Pasti hatinya benar-benar hancur.
“Kamu mau datang ke acara pernikahan mereka?”
“Nggak mau.” Lian masih berada dalam pelukan Sapta.
“Kamu harus datang Lian, kamu nggak boleh lemah kayak gini. Kamu datang sama aku ya.” Sapta membujuk Lian agar dia hadir di resepsi pernikahan Rasya.
“Nggak.” Lian mulai terisak menangis.
“Pokoknya kamu harus datang, aku yang akan temenin kamu di sana. Biar kamu nggak sendiri. Mau ya?”
“Iya.” Lian menganggukan kepalanya.
“Nanti pulang kerja aku antar pulang ya.”
“Iya.”
***
            Malam yang tak ingin ditemui oleh Lian pun akhirnya datang juga. Sapta datang ke rumah Lian untuk menjemputnya. Lian sudah bersiap-siap sedari tadi. Lian menngenakan gaun merah marun selutut. Rambutnya ditata sedemikian rupa. Lian terlihat sangat cantik malam itu. Wangi tubuh Lian tercium oleh hidung Sapta. Aromanya seperti bau sabun. Begitu fres.
“Udah siap?” tanya Sapta pada Lian.
“Udah.”
“Ok, kita berangkat sekarang.”
            Sapta dan Lian langsung pergi menuju gedung tempat resepsi Rasya dan Azka. Sebenarnya Lian malas datang ke acara pernikahan mereka, karena Lian takut kalau dia akan menangis. Tapi untunglah ada Sapta yang menemaninya. Jadi jika terjadi sesuatu pada Lian, Sapta siap membantu Lian dengan tulus.
            Lian dan Sapta sudah sampai di depan gedung pernikahan Rasya dan Azka. Lian menarik nafasnya dalam-dalam sebelum masuk ke dalam.
“Kamu harus tenang ya. Jangan baper.” Sapta memegang tangan Lian.
“Enggak kok.”
“Ok, kita masuk sekarang.
            Perasaan Lian campur aduk, tak karuan sama sekali. Lian berusaha untuk bisa menerima kenyataan bahwa Rasya memang bukan untuknya. Lian yakin jika ini sudah menjadi takdir Tuhan. Lian hanya bisa pasrah dan berusaha ikhlas menerima semuanya.
            Sapta mulai memegang pinggang Lian dari belakang. Mereka berjalan menuju kursi pelaminan. Rasya dan Azka tersenyum bahagia di sana. Terlihat sekali raut kebahagian di wajah mereka.
“Akhirnya kamu datang  juga Lian. Azof mana?” Rasya menyadari jika Azof tak bersama Lian.
“Azof lagi tugas di Papua. Dia belum pulang. Harusnya sih dia pulang bulan ini. Tapi karena ada Kendala gitu dia nggak jadi pulang. Aku juga nggak tahu sih dia pulangnya kapan.” jawab Lian dengan santai.
“Oh  gitu, jauh juga ya di Papua..”
“Selamat ya.” Lian memberikan ucapan selamat pada pengantin baru.
“Iya, Lian makasih ya.” Azka tersenyum.
“Ini siapa?” Azka bertanya pada Lian.
“Pacar.” Lian mengakui Sapta sebagai pacarnya.
“Oh, pacarnya. Cepet nyusul ya kalian.” Azka mendoakan Sapta dan Lian.
“Amin.” ucap Sapta dan Lian bersamaan.
            Sapta dan Lian menikmati makanan yang dihidangkan, sesekali mereka tertawa bersama. Nampaknya Lian sudah tidak memperdulikan Rasya lagi. Kini Rasya sudah bahagia bersama keluarga barunya. Lian harus bisa move on. Lagipula sekarang sudah ada Sapta. Pria yang mencintainya. Untuk apalagi Lian memikirkan Rasya yang sudah jelas-jelas milik orang lain.
            Jam sudah menunjukakn pukul 22.00 malam. Sapta harus segera mengantar Lian pulang ke rumahnya. Lian turun dari dalam mobil, begitupun dengan Sapta.
“Lian, tunggu.” Sapta menghentikan langkah Lian.
“Ada apa?” Lian menoleh pada Sapta.
“Soal tadi yang kamu bilang kalau aku itu pacar kamu…”
“Oh, itu. Itu emang mau kamu kan? Kamu kan bos aku, jadi aku harus mau melakukan apapun yang diperintahkan oleh bosnya.” Lian memotong ucapan Sapta.
“Kamu serius, Lian?” Sapta masih tak percaya.
“iya, aku serius.”
“Jadi sekaramg kita jadian nih?”
“Bukannya dari kemaren ya kita udah pacaran. Kan kamu yang bilang sendiri.” Lian tersenyum.
“Yes!!!.” Sapta kegirangan.
“Makasih ya.” kata Lian pada Sapta.
“Buat apa?” Sapta kebingungan
“Buat semuanya.”
“Semuanya?” Sapta semakin kebingungan.
“Karena selama ini kamu udah selalu ada buat aku. Kamu melebihi dari seorang sahabat. Kamu itu sering bikin aku kesel, bikin aku jengkel, bikin aku marah dan…” Lian tidak melanjutkan ucapannya.
“Dan apa?”
“Dan bikin aku kangen.”
“Kamu kangen sama aku?”
“Emhh… Mungkin iya mungkin enggak.” Lian sedikt berpikir.
“Ih, kamu nyebelin.” Sapta menggelitik pinggang Lian.
“Sapta, geli.”
“Cinta itu lucu ya.”
“Kok lucu sih.”
“Ya, lucu aja. Semakin sering kita ketemu malah semakin kangen.”
“Kangen nggak sama aku?” Lian mendekati Sapta.
“Aku selalu kangen sama kamu.” Giliran Sapta yang semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Lian.
“Masa?”
“Iya, serius.” Sapta mulai memeluk tubuh Lian. “Kamu nggak mau ngucapin apa gitu sama aku.”
“Emangnya aku harus ngucapin apa?”
“Aku ulang tahun hari ini.”
“Serius?” Lian melepaskan tubuhnya dari dekapan Sapta.
“Iya. Aku beneran ulang tahun hari ini. Tepat tanggal 24 September.”
“Yang ke berapa tahun?”
“25 tahun.”
“Dih, udah tua.” Lian malah meledek Sapta.
“Itu bukaan tua, tapi matang.”
“Kalau udah matang sebentar lagi busuk dong.”
“Lian!!!.” Sapta mencubit pipi Lian dengan gemas.
“Aw, sakit.” Lian memegang pipinya. “Aku belum siapin kado buat kamu. Soalnya aku nggak tahu kalau hari ini kamu ulang tahun.”
“Nggak apa-apa kok, kamu hadiah buat aku.” Sapta kembali memeluk tubuh Lian. “Selama bulan September kita selalu sama-sama. Kita kerja bareng, makan siang bareng, menghabiskan waktu bareng. Dan aku senang bisa melakukan semuanya sama kamu.”
“Asal jangan bobo bareng ya?”
“Jangan dong, kitakan belum nikah. Nanti tunggu waktu yang tepat, Lian.”
“Kapan?”
“Besok mau aku langsung ajak ke penghulu?”
“Nggak kecepetan itu.”
“Kan lebih baik begitu.”
            Lian hanya tertawa kecil dipelukan Sapta. Sapta menatap wajah Lian lumayan lama. Dia mengelus pipi Lian, mengusap wajahnya dan membelai hidung Lian. Sapta benar-benar mencintai gadis yang ada dihadapanya. Sapta tidak menyangka jika Lian kini sudah menjadi miliknya. Sapta semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Lian. Degup Jantung Lian berdetak tak beraturan. Semakin Sapta mendekatkan wajahnya, jantung Lian semakin berdetak dengan kencang. Dan entah bagaimana kejadiannya, kini bibir Sapta sudah menempel pada Bibir Lian. Sapta mengecupnya dengan sangat hati-hati. Cukup lama sapta mencium bibir Lian dan itu membuat lutut Lian menjadi lemas. Untung saja Sapta sambil memegang tubuh Lian. Jiak tidak, mungkin saja Lian sudah terjatuh lemas. Dan Sapta adalah laki-laki pertama yang berhasil mencium bibir Lian. Sekaligus pacar pertama Lian.
            Lian memang bukan yang pertama bagi Sapta. Tapi kali ini Sapta ingin menjadikan Lian sebagai wanita terakhirnya. Sapta berharap jika hubungannya dengan Lian bisa sampai ke jenjang pernikahan. Sapta sangat mendambakan sekali jika kelak nanti Lian akan menjadi ibu dari anak-anaknya.
Selesai

No comments:

Post a comment

Silahkan berkomentar dengan sopan dan baik
Komentar yang mengandung link aktif akan dihapus secara otomatis